Pengacara Senior Al Hanafiah: Dentons HPRP Bermula di Garasi

Saat saya duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum Universitas Indonesia, nama-nama law firm seperti “HHP” “SSEK” “HPRP” sering terdengar dan menjadi incaran untuk bekerja. Nama law firm tersebut bukan kode rahasia, melainkan akronim dari lawyer pendirinya. Sosok mereka sedikit sekali terlihat oleh mahasiswa FHUI. Di tengah pandemi, ILUNI FHUI dengan sangat cerdas membuat acara dialog inspirasional dengan para pendiri law firm ini.

Saya dipercaya oleh Bidang II Pemberdayaan Alumni ILUNI FHUI untuk mewawancarai bapak Al Hakim Hanafiah yang merupakan founding partner dari Hanafiah Ponggawa and Partners atau Dentons HPRP. Sejujurnya ada sejarah yang lucu antara saya dengan HPRP. Saya pernah melamar di HPRP dan lolos tes tertulis dan wawancara HRD. Namun saat ditelpon untuk melanjutkan ke interview selanjutnya, saya sudah memantapkann hati pindah haluan menjadi jurnalis televisi. Hehehe.

Wawacara saya mulai dengan pertanyaan fundamental. “Apakah sejak awal ia ingin menjadi pengacara?” Pak Al lantas bercerita ia semula ingin menjadi dokter karena pengaruh om-nya yang seorang dokter. Namun karena syarat menjadi dokter harus ditempatkan di daerah terpencil, ia pun ciut. Pekerjaan Ayahnya, Lukman Hanafiah, yang kemudian memberi pengaruh pada pengambilan keputusannya.

Apa tips untuk mendirikan law firm sendiri dari 0?

Pertama dukungan dari keluarga. Sepulang dari Amerika, saya dan Pak Nino (Constant Marino Ponggawa–founding partner HPRP) dan ibu Tuti Dewi alm, yang bekerja di LGS memutuskan untuk membuat kantor sendiri. Saat itu kami memulainya dari garasi rumah Pak Nino. Saat itu istri saya memberikan waktu untuk tiga tahun membangun law firm ini. Kalau gagal, harus cari pekerjaan lain. Saat itu gengsi saya tinggi dan tidak mau panggil orang bos. Hahaha. Untungnya berhasil. Yang kedua luck ya. Saya merasa sangat beruntung karena mempunyai partner yang baik.

Kalau tips bangun law firm di tengah pandemi bagaimana?

Saya sarankan untuk tunda dulu rencananya. Dari sisi pragmatis saya ya, saat ini banyak investor maupun perusahaan yang masih wait and see, belum mau ambil resiko untuk bertransaksi. Tapi kalau ada client besar yang sekiranya mau ambil resiko, silahkan saja.

Apa momen kegagalan dan bagaimana handle nya?

Selama membangun law firm tidak indah terus ya. Tiga kali mengalami perpisahan. Awalnya bu Tuti Dewi pergi membawa partner bule kita. Lalu ada 2 partner lagi. Ini menjadi strength kita, sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Udah nggak kaget itu. Lebih ber-darah dingin. Hahaha. Alhamdulillah bisa jalan terus. Kita berdua percaya banget sama yang di atas. Kalau niat baik, Allah pasti nolong. Mau dari agama saya atau agama pak Nino, Tuhan bantu.

Bagaimana sebagai leader handle situasi pandemi?

First quarter tahun lalu, drop banget. Semua wait and see. Ga ada transaksi. Mau ga mau harus cost cutting. Disitulah saya bangga sama staf kita semua dari lawyer sama semua staf, semua bisa mengerti bahwa sementara salary kita potong dulu semua. Kita nggak bagikan dulu. Kita ngutang sampe kadaan beres. Dua kita negosiasi sama gedung untuk turunin rental dan ngecilin space. Alhamdulillah semester kedua kita bagus.

Apa yang harus dilakukan untuk keep up with technology?

Berpartner dengan Dentons itu advantage kita. Sekarang lagi bahas AI (artificial intelligence). Kita lagi liat mana sistem yang cocok untuk Indonesia. Isunya disini Bahasa. Kita banyak Bahasa Indonesia, compatibility yang tadinya Bahasa Inggris bagaimana? Kita bahas terus. Sooner or later, sooner harus embrace AI at least untuk due diligence. Kerjaan dokumen bertingkat2 harus segera dianalisa. Hal yang menyedihkan, bagaimanan lulusan baru FH? Kalau bener2 embrace AI berkurang kerjaan.

Apa prinsip pak Al dalam bekerja sebagai lawyer?

Integritas. Kalau udah pegang satu klien, jangan karena materi yang besar fee yang besar, pindah ke lawan. Jangan pikirin materi karena dengan kita sukses uang datang sendiri. Jangan kita cari uang, tapi menaikan reputasi. Dengan itu, uang alhamdulillah bisa datang. Tapi di era saat ini sudah tidak bisa lagi lawyer harus noble, diem, lalu client dateng. Sekarang harus marketing juga. Keluarin publikasi, dengan artikel. Lawyer harus jadi business men juga. Kalau kita mau target punya client aviation, kita harus paham Bahasa penerbangan. Makanya firm kita one of the best aviation firms di Indonesia. Gara2 Garuda klien kita lama.

Ada pesan yang bisa diberikan pada fresh graduate, apa karakter dan skill yang dibutuhkan dunia hukum saat ini?

Pelajari semua IT systems yang ada digunakan sama lawfirm. Dari situ bisa office, bisaa ya. Kalau bisa lebih ngerti lagi, how lawfirm works, sekarang tu artikel banyak banget gimana lawfirm remunerate, banyak banget. Know the industry.

Apa 5 karakter lawyer yang penting dimiliki pak?

Punya ambisi, cerdas, rajin menambah ilmu, passionate, sabar.

Quotes of life?

Pertama jaga integritas, nomor dua adalah ilmu harus diwariskan.

Dialog ini berjalan dengan cair karena Pak Al sendiri adalah sosok yang sangat easygoing. Saat video testimoni dari orang-orang terdekatnya diputar, Pak Al dikenal dengan figur yang hangat, family-man dan suka berwisata kuliner serta olahraga. Terima kasih atas kesempatannya menjadi moderator acara ini, ILUNI FHUI!