Gelora Singkawang dan Pontianak Kota Khatulistiwa

Pulau Kalimantan tak terlalu asing lagi asing bagiku. Perjalan dinas peliputan kali ini ke Singkawang, Kalimantan Barat, menandai keempat kalinya aku menginjakkan kaki di pulau Borneo. Penugasan ini sebenarnya tidak terlalu diharapkan, karena pada hari yang sama aku sudah merencanakan berbagai hal dengan ibuku.

Tetapi di saat yang sama, untuk pergi ke Singkawang aku harus lewat Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. Aku ingin sekali bisa melihat kota Pontianak, kota yang berada tepat di garis ekuator. Tentu kita mengetahuinya sejak duduk di bangku SD. Garis ekuator atau garis khatulistiwa adalah sebuah garis imajinasi yang digambar di tengah-tengah planet di antara dua kutub dan paralel terhadap poros rotasi planet. Jadi, saya sangat bersyukur dengan perjalanan dinas kali ini.

Penugasan kali ini adalah meliput kegiatan ketua Dewan Perwakilan Daerah, Oesman Sapta Odang di Singkawang, Kalimantan Barat. Kami berangkat hari Jumat 27 April 2018. Sesampainya di Bandara Supadio Internasional, aku mengobservasi situasi.

“Oh ini ya bandara dengan kualitas servis terbaik versi Airport Council International?” kataku dalam hati. Bandara ini meraih peringkat pertama dalam kategori bandara berkapasitas 2-5 juta penumpang.

Entah kenapa aku merasa tersanjung membaca tulisan “AWAK DATANG KAMEK SAMBUT” di bagian depan bandara. Mungkin karena aku merasakan sambutan yang hangat meski hanya dari tulisan saja.

IMG_4019
Tulisan yang menyambut di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kalimantan Barat

IMG_4021

IMG_4127
Bandara Supadio Pontianak dari luar

Di bandara kami mengikuti konferensi pers dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Ketiga narasumber ini menyoroti masalah-masalah di perbatasan karena mereka baru saja mengunjungi Pos Lintas Batas Negara Entikong dan Aruk. Ketua DPD Oesman Sapta Odang pun mengapresiasi pengabdian TNI-Polri di perbatasan.

perbatasan
Perbatasan Kalimantan Barat dengan Kuching, Malaysia. Entah kenapa GoogleMaps menunjukkan jalan dari Entikong ke Aruk lewat Malaysia

Panglima dan Kapolri kompak menyatakan bahwa kondisi perbatasan saat ini sangat maju dibandingkan beberapa tahun lalu terutama dari sisi infrastruktur. “Masyarakat menyampaikan banyak sekali perubahan terutama tampilan dari perbatasan itu, yang dulunya jomplang dengan tetangga kita Malaysia, sekarang jomplang kita jauh lebih baik daripada Malaysia,” ujar Kapolri.

Namun mereka tidak memungkiri bahwa permasalahan di perbatasan negara yang besar ini adalah penyelundupan narkoba maupun illegal logging. “Di perbatasan masih banyak ditemui jalan-jalan tikus yang nantinya TNI, Polri, Ditjen Bea Cukai akan berkoordinasi untuk bisa menghalau mendeteksi dan akan terus berupaya untuk menghambat adanya penyelundupan,” ujar Panglima dengan meyakinkan.

IMG_4033
Kiri-kanan: PJ Gubernur Kalimantan Barat Dodi Riyadmadji, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Ketua DPD Oesman Sapta Odang, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian
doorstop panglima
Wawancara doorstop yang berdesak-desakan

Dari Pontianak, kami bertolak ke Singkawang. Perjalanan yang memakan waktu sampai 5 jam terasa cukup melelahkan. Menikmati jalanan juga tidak mungkin karena sudah gelap gulita. Di tengah perjalanan OSO yang notabene merupakan putra daerah Kalimantan Barat, mengajak kami makan di Pondok Pengkang. Nama yang aneh dan sangat tidak menggugah. Apalagi aku sebenarnya sedang tidur lelap.

Dengan malas-malasan aku turun bus bersama Poppy rekan dari Jawapos TV untuk makan pengkang. Ternyata pengkang adalah ketan yang dibalut daun pisang lalu dipasang di stik kayu untuk dibakar. Cara memakannya dicocol dengan sambal kepah. Sambal rasa asam manis ini berpadu dengan rasa gurih kerang yang biasa hidup di hutan mangrove. Lebih nikmat lagi jika minumnya es lidah buaya. Tapi ternyata kami tak bisa berlama-lama disitu. Kami harus melanjutkan perjalanan kembali.

 

pengkang
Pengkang khas Kalbar (sumber: google, pas mau foto eh udah keburu abis makanannya he he)

Setelah menjalani sejumlah agenda di Singkawang keesokan harinya, kami harus kembali lagi ke Pontianak untuk melakukan ke Jakarta. Waktu berlalu sangat cepat disana, padahal kami ingin sekali mengeksplor kota paling toleran di Indonesia ini (Setara Institute, 2017).

Wakil Wali Kota Singkawang Irwan mengatakan, kota yang berjarak 145 km dari Pontianak ini masyarakatnya sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong. “Ini kota yang sangat toleransi,” kata Irwan saat menyambut awak media di Singkawang. Banyak orang, kata dia, menyebut Singkawang Bumi Bertuah, Kota Tasbih, Kota Kelenteng dan juga Kota Amoy.

Perjalanan ke Pontianak begitu berat, terlebih salah satu bus tiba-tiba mogok di jalan! Untung saja tidak ada korban. Hanya saja, mereka menjadi tidak nyaman karena harus berdesakan menumpang di bus lain.

IMG_4073
Pemandangan di lantai 3 hotel yang berhadapan langsung dengan Gunung Poteng

Dari seorang teman aku tahu bahwa warga Pontianak punya budaya minum kopi yang kuat.

Tiap pulang kantor, karyawan Pontianak akan memenuhi warung kopi terdekat untuk menyeruput kopi dan bercengkrama dengan relasi. Kopi Pontianak memang tidak masyhur tapi kopi dan Pontianak tidak terpisahkan.

Mulanya aku ingin mencicipi Kopi Aming, kopi otentik Pontianak yang diracik sendiri. Namun karena sudah tutup, aku pun menyempatkan mampir ke warung kopi yang lebih kekinian bernama Segitiga Coffee.

IMG_4093
Warung kopi di jalan raya dari Singkawang ke Pontianak
IMG_4098
Warung kopi kekinian “Segitiga Coffee”

IMG_4099

Keesokan harinya kami mampir ke Pasar PSP di Jalan Pattimura. Di pusat oleh-oleh ini kamu bisa menemukan banyak oleh-oleh khas Pontianak. Bisa beli kain sablon motif Dayak dengan harga ekonomis Rp 50.000 sampai tenun Dayak harga ratusan ribu rupiah tergantung kerumitannya. Untuk makanan ada lidah buaya dan olahannya, lempok durian, hingga stik talas. Sementara pernak perniknya ada tas, dompet bermotif khas Dayak.

Tak terasa, sudah tiba waktunya untuk kembali ke Jakarta. Rombongan tiba di bandara 2 jam lebih cepat dari waktu boarding. Kunjungan ke Pontianak terasa sederhana tetapi cukup menyenangkan. Aku rasa masih banyak potensi wisata lain yang belum sempat aku kunjungi. Ya, semoga nanti bisa mampir lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s