Menjelajah Gletser Fox Selandia Baru yang Indah

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa suatu hari saya akan mendaki gletser. Jangankan mendatangi gunung es abadi di negeri seberang sana, mendaki gunung di Tanah Air yang populer disambangi teman-teman saya saja, belum pernah saya lakukan.

Tapi itulah yang terjadi pada Agustus lalu. Saya tertantang oleh ajakan kakak saya untuk merasakan sensasi menjejakan kaki di atas salah satu gletser ternama di dunia, Gletser Fox, di Selandia Baru saat musim dingin.

Gletser merupakan hamparan es di permukaan tanah yang terbentuk karena endapan salju yang membatu. Selain ingin merasakan sensasinya, saya juga antusias karena gletser di dunia terus menyusut akibat pemanasan global. Di benak saya, kapan lagi berkesempatan mendaki gletser yang tersisa?

Mencapai angan-angan itu bukan perkara mudah. Pertama, selain belum pernah naik gunung, saya takut ketinggian. Padahal untuk menuju lokasi gletser saya harus menumpang helikopter selama tiga menit dari landasan helikopter milik kantor agen tur di 44 Main Road, Fox Glacier.

Kedua, pendakian gletser ini akan berlangsung selama tiga jam. Waktu sepanjang itu membuat saya langsung membayangkan apa saja yang bisa terjadi. Pikiran buruk akan berbagai spekulasi menggerogoti, mulai dari longsor, cuaca buruk, bertemu beruang liar, hingga gempa bumi.

Karena dua alasan inilah, sebelum menuju lokasi, saya hampir mengutarakan keinginan untuk membatalkan tur saja. Saya menghampiri ibu saya yang ternyata berpikiran sama. Tetapi setelah berdiskusi panjang, akhirnya kami mengurungkan niat. Kami tidak ingin membuat kakak yang telah mengurus perjalanan ini dari A sampai Z kecewa. Sepanjang perjalanan dari penginapan menuju kantor agen tur, kami hanya bisa saling menguatkan.

Namun, semakin mendekati lokasi, kegalauan ibu akhirnya pecah juga.

“Dek, kira-kira ibu kuat tidak ya, mendaki gletser selama tiga jam? Apa betul durasi waktunya selama itu?” tanya ibu pada saya.

Rasa khawatirnya ternyata tidak bisa ditutupi lagi. Saya tahu, pertanyaan retoris ibu sebetulnya ditujukan pada kakak, bukan pada saya.

Bagaikan diberi kesempatan untuk ikut ‘menghasut’ kakak, saya pun serta merta melanjutkan pertanyaan ibu dan melemparkannya kepada kakak, yang terlihat sangat tenang dibandingkan dengan kami berdua.

“Iya kak, tiga jam itu… Lama banget loh…” kata saya dengan suara pelan, berharap kakak memahami kecemasan kami dan akhirnya membatalkan perjalanan ke Gletser Fox.

Kakak hanya terdiam. Ia fokus membantu mencari arah untuk kakak ipar saya yang menyetir mobil sewaan kami selama perjalanan darat di Selandia Baru.

Setibanya di kantor agen tur, kami langsung mendapatkan sambutan yang hangat. Sepertinya para pemandu wisata mendeteksi rasa takut kami. Bersama lima orang wisatawan mancanegara lainnya, kami langsung diajak memulai tur yang diawali dengan penjelasan tentang proses mendaki gletser.

Kami pun akhirnya naik helikopter dan melambung tinggi ke atas langit. Tiga menit yang saya pikir akan menjadi tiga menit terlama dalam hidup, ternyata sebaliknya. Saya begitu menikmati pemandangan menakjubkan di bawah sana sehingga waktu justru terasa begitu cepat. Barisan gunung tinggi menjulang, diselingi sungai yang mengalirkan air segar, membuat saya lupa akan takut ketinggian.

Setibanya di gletser, saya tidak bisa berkata-kata. Ternyata gletser berkilau bagai permata. Pemandu wisata kami, Sarah, meminta kami ekstra hati-hati. Dengan sepatu bergerigi tajam, kami diminta melangkah dengan mantap di lantai es yang licin.

Perjalanan kadang terhenti karena medan yang terlalu sulit dilewati, sehingga Sarah harus memahat tangga buatan dengan kapaknya untuk kami.

Ada satu titik di mana kami melewati turunan yang curam. Di sini ibu terlihat kehilangan keseimbangan dan berusaha kembali tegak dengan berpegangan pada gundukan es di kanan kirinya. Tetapi bukannya pegangan kokoh yang ia dapat, licinnya es membuat ibu tergelincir dengan posisi tengkurap. Melihat ibu mulai meluncur ke bawah, saya yang berada persis di belakang ibu memasang ancang-ancang untuk menahan kaki ibu. Tetapi Sarah dari bawah meneriaki saya untuk diam di tempat. Saya sangat panik dan kesal tidak bisa menolong ibu. Belakangan Sarah mengungkapkan, ia khawatir saya justru meluncur bersama ibu.

Untung saja ibu tidak meluncur terlalu jauh karena Sarah menahannya. Ibu tidak terluka berat meski tangannya sedikit memar. Saya bangga ibu terlihat tenang dan tetap semangat menjalani sisa perjalanan. Semangat kami semakin membara ketika Sarah mengatakan dalam satu jam ke depan, kami akan melihat fenomena alam gua es.

Setibanya di gua es itu, kami semua terbelalak.

Wow, this is amazing,” ucap Jelte, seorang anak SMA berkewarganegaraan Belanda.

Sarah menjelaskan bahwa lengkungan gua terbentuk karena gumpalan es yang bergerak ke bawah. Di satu titik, sebagian es terhenti, sementara es dari atas masih terus menekan. Tekanan terus menerus ini menyebabkan tumpukan es di bawah melengkung menjadi sebuah gua.

Tentu saja kami tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen berada di lengkungan es tersebut. Sejenak saya merasa seperti berada di lokasi film The Revenant. Langsung terbayang bagaimana Hugh Glass, pemuda yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio, berjuang mempertahankan diri di tengah rimba hutan es dan salju. Di sisi lain kakak saya merasa bak putri es, Elsa, dalam film animasi Frozen.

Usai berfoto, cuaca mendadak tak bersahabat. Langit biru dengan cepat tertutup awan gelap. Kata Sarah, demi keamanan, kami harus segera kembali. Mendengarnya saya merasa sedih karena saya baru saja mulai menikmati perjalanan ini.

Anehnya dalam perjalanan menuju helikopter, langit kembali terang. Sarah mengubah keputusannya sehingga kami dapat mendaki lagi. Ia mengajak kami ke titik teratas yang bisa dijangkau. Peluh terasa bercucuran meski udara sangat dingin.

Sesampainya di puncak, saya dan ibu berpelukan. Kami tidak menyangka bisa mencapainya.

Subhanallah... Luar biasa sekali ya bu lukisan alam Tuhan,” kata saya sedikit tersengal, akibat kelelahan di tengah suhu empat derajat yang menusuk.

WhatsApp Image 2017-08-17 at 5.09.48 AM

Merinding bulu kuduk saya melihat gagahnya puncak-puncak gunung Alpen berpadu dengan sentuhan keanggunan salju dan gletser. Belum lagi langit biru dihiasi buntalan-buntalan awan yang berserakan. Dinginnya es pun menjadi tak terasa karena rasa hangat yang menyeruak asa.

Saya lantas mengeluarkan bendera merah-putih dari dalam tas. Saya mengajak ibu mengunci momen ini dalam rak penyimpanan kamera alias foto dengan membentangkan bendera. Layaknya pahlawan yang berhasil merebut kemerdekaan Indonesia, kami bangga bisa menaklukkan rasa takut mendaki gletser.

Perjuangan belum selesai, kami harus turun kembali ke lokasi awal dengan menumpang helikopter. Sampai di kantor agen tur, kami langsung memesan teh hangat. Karena diminum di saat yang tepat dan diminum sambil menikmati pemandangan yang indah, teh ini resmi saya nobatkan menjadi teh ternikmat! Terimakasih Tuhan atas perjalanan yang terasa penuh berkat.

Ditulis di Jakarta,

10 September 2017

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s