Najwa Shihab Ungkap Cara Menjadi Pemimpin Perempuan yang Tangguh

Siapa sangka pembawa talkshow Mata Najwa, pendiri perusahaan media digital Narasi, seorang Najwa Shihab, pernah galau berat sampai tidak bisa tidur? Dalam acara Stellar Women Entrepreneurship Academy, Najwa Shihab mengungkapkan sisi lainnya yang belum pernah saya ketahui sebelumnya.

Najwa bercerita perjalanan karirnya menjadi jurnalis hingga pemimpin perusahaan media yang diperhitungkan, dari rapuh menjadi tahan banting, berbagi pemikirannya soal pemberdayaan perempuan, hingga mengkritisi konstruksi sosial soal perempuan dan ambisi.

Di acara webinar ini saya baru tahu bahwa 13 episode awal Mata Najwa itu ratingnya tidak memuaskan dan membuatnya hampir berhenti di 3 bulan pertama. “Mata Najwa itu 13 episode pertama ratingnya jelek,” ucap Najwa saat ditanya apakah ia pernah merasa galau.

Lebih lanjut iya menceritakan keputusannya untuk hengkang dari Metro TV dan mendirikan perusahaannya sendiri bukan sesuatu yang mudah. Pasalnya Metro TV adalah tempat kerjanya pertama kali dan ia ditempa belasan tahun disana. Pada saat akhirnya ia mendirikan Narasi, sempat ada momen ia terbangun tengah malam, tidak bisa tidur mempertanyakan keputusannya ini. Terlebih ada sejumlah anggota tim Mata Najwa yang percaya padanya dan ikut pindah ke Narasi. Ia memikirkan mereka.

Najwa tetap optimis dan membangun media digital Narasi yang menurutnya penuh dengan tantangan, penuh dengan trial dan error dalam hal produksi konten. Pembuktian berupa inovasi karya dan konten perlu terus dilakukan. Pasalnya, nama besarnya hanya sebatas membuat orang terutama potential sponsor menengok saja. Pada akhirnya untuk sampai tahap pendanaan, mereka tetap menunggu karya yang dihasilkan Narasi.

Sesi mentoring Najwa Shihab di Stellar Women Entrepreneurship Academy ini bertajuk “Resillience” atau ketahanan. Menurut Najwa, pandemi membuatnya sadar bahwa kunci menjadi resillient adalah be mindful dan be in the present. Kita tidak bisa mengontrol masa depan, tapi bisa mengontrol saat ini. Maka, sempatkanlah melakukan refleksi karena dengan itu kita jadi tahu dimana kekuatan kita, juga kekurangan kita. “Misalnya saya jadi sadar bahwa saya kerap kali tidak sabaran, sehingga ada saja kata yang terucap melukai,” kata Najwa.

Menurut Najwa ia bisa menjadi tangguh seperti saat ini juga karena pengalamannya saat menjadi jurnalis. Dahulu ia diajari untuk pantang pulang sebelum mendapat informasi dari berbagai sumber yang kredibel agar beritanya bisa tayang. “Saya terbiasa mencari kebenaran bukan pembenaran, aktif mencari tahu bukan sok tahu.”

Najwa mengungkap untuk membangun resilliency di perusahaannya, ia selalu memotivasi timnya untuk speak up. Menurutnya tidak ada ide yang terlalu kecil untuk diutarakan. Ide ini pun tidak boleh sekedar ide, lantas juga harus dieksekusi sampai tuntas.

Saat sesi tanya jawab saya melontarkan pertanyaan yang selama ini saya penasaran sekali. Pertanyaan tersebut adalah bagaimana Mbak Nana–panggilan akrabnya–mengomunikasikan ambisinya pada suami dan keluarganya? Jawabannya, komunikasi. Sejak awal keluarganya tahu apa ambisinya dan ia melibatkan partner atau suami dalam pengambilan keputusan. “Pria hebat di sekeliling kita juga bisa multiperan. Kadang menjadi anggota tim yang berjalan beriringan. Kadang jadi kapten yang memulai duluan. Kadang jadi pemain cadangan yang siap menggantikan.”

Najwa menyayangkan perempuan ambisius seringkali dianggap sebagai hal yang negatif. Najwa menjawab dengan sebuah kutipan dari Winston Churcil: “You have enemies? Good! That means you have stood up for something, sometime in your life.”

Najwa menutup diskusi ini dengan mengingatkan perempuan untuk saling mendukung. Jika ada perempuan sukses, jangan dicibir. Justru mindset kita yang harus diubah menjadi “kalau dia bisa seharusnya saya bisa juga”. Jangan jadikan kesuksesan orang lain penutup kesuksesan kita. Masih banyak kesempatan lain yang kita bisa dapatkan untuk sukses.