Seni Menerima ‘Feedback’

“Kamu sama ibu dan kakak kamu kompak banget deh. Apa sih tips-nya?” Wah, alhamdulillah kalau kami dibilang kompak, yah! Semoga bukan cuma karena bajunya aja yang sering kembaran dan senada. Meski terlihat kompak di media sosial, saya mau jujur ke kalian, kita bertiga bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat dan saling ngegas loh.

Jujur aku terus memperbaiki diri dalam berkomunikasi dengan kakak dan ibu terutama ketika harus saling memberikan feedback satu sama lain. Jangan salah loh, menerima feedback dari keluarga itu susah-susah gampang. Di satu sisi, keluarga menerima kita apa adanya, tapi di sisi lain, untuk kebaikan kita, tentu kita harus saling mengingatkan.

Suatu kali aku pernah negur ibu karena jalan bolak-balik di ruang tamu ke ruang TV pake sepatu. Padahal aku tuh udah ngepel itu lantai dari pagi.

“Ibu, bisa nggak, nggak pake sepatu?”

Ibu diem aja dan tetep jalan-jalan keliarann.

“Bu, tolong hargai dong kan adek udah ngepel!”

“Iya iyaa,” kata ibu.

“Ibu tuh sering banget komplen ya kalo adek ngepelnya kesiangan, giliran on time malah gak dihargai gini,” nada ku mulai tinggi.

“Iya adeek, maaf ya dek,” kata ibu.

“Nah, gitu dong!”

Terus, tiba-tiba kakak nyeletuk: “Adek ah pagi-pagi jangan marah-marah!”

Orang udah kesel karena gak dihargai, malah disalahin. Pasti tambah kesel dong ya?

Wah gak usah ditanya lagi, jantung berdegup kencang, napas gak teratur.

Ya, memang umpan balik itu seringkali datang tanpa bisa kita antisipasi. Lantas kenapa ya kita bisa terpicu dengan umpan balik?

Menurut buku yang aku baru selesai baca, Thanks for the Feedback: The Science and Art of Receiving Feedback Well, dikatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi pemicu.

  1. Truth Triggers
    • Dari substansi umpan balik itu sendiri, kita sudah menganggapnya aneh, tidak membantu. Jadi, kita marah dan jengkel.
    • Di contoh tadi, kakak bilang “adek pagi-pagi jangan marah-marah lah.” Menanggapi hal ini, aku dalam hati berpikir “Gue gak salah kali, yang salah itu ibu.”
  2. Relationship Triggers
    • Kita tersandung oleh orang tertentu yang memberi kita umpan balik ini. Semua umpan balik diwarnai oleh hubungan antara pemberi dan penerima. Fokus bergeser dari umpan balik ke orang yang memberikannya.
    • Setelah gue ngepel untuk kebersihan rumah ini, lo mengkritik kesalahan kecil gue?
  3. Identity Triggers
    • Kalau ini, tidak fokus ke isi feedback atau pada orang yang menyampaikannya. Semuanya tentang apakah umpan baliknya benar atau salah. Kita merasa kewalahan dan tiba-tiba tidak yakin dengan diri sendiri dan mempertanyakan apa yang dilakukan.
    • Di kasus yang aku kasih contoh tadi, aku malah nyalahin diri sendiri “Ya ampun aku kenapa marah-marah ya, aku pribadi yang buruk!

Nah di buku ini kemudian dijelasin, gimana langkah untuk mengatur percakapan umpan balik supaya menjadi dua arah yang sehat dan bermanfaat.

MENDENGARKAN

Dengarkanlah “internal voice” mu dan ajak dia berbicara. Pasti kalau lagi dikritik kayak ada suara di kepala yang denial sama kritik itu. Yakan?

Lalu, dengarkanlah umpan balik dari orang tersebut dengan tujuan. Tujuannya bukan untuk menjadi orang yang sopan, tetapi untuk memahami dan memastikan mereka tahu Anda mengerti.

Hati-hati dengan pertanyaan yang panas seperti “Apakah lo benar-benar berpikir bahwa apa yang lo katakan itu adil?

Ubahlah menjadi “Apa yang lo sarankan tampaknya tidak konsisten dengan kriteria yang lo gunakan untuk orang lain di posisi saya. Itu sepertinya gak adil deh.”

MENEGASKAN

Lakukanlah penegasan, agar pihak yang memberikan umpan balik tahu apa pendapat kita atas kritik dan saran yang mereka berikan.

Ada beberapa respon salah yang kerap terjadi. Kita bisa memberikan respon penegasan yang lebih baik.

Truth Mistakes
Pitfall: “Nasihat itu salah.”
Say it better: “Saya merasa tidak setuju dengan saran itu.”

Relationship Mistakes
Pitfall: “Ini bukan salah saya. Saya bukan masalah sebenarnya di sini.”
Say it better: “Saya setuju bahwa ada hal-hal yang saya kontribusikan untuk kesalahan ini. Saya juga ingin step back untuk melihat gambaran yang lebih besar bersama-sama, karena saya pikir ada sejumlah masukan lain yang penting bagi kita untuk dipahami jika kita akan mengubah sesuatu.”

Identity Mistakes
Pitfall: “Itu benar, saya putus asa.”
Say it better: “Saya terkejut dengan semua ini dan banyak yang sebetulnya bisa diterima. Saya ingin meluangkan waktu untuk memikirkannya dan mencerna apa yang Anda katakan. Mari kita bahas lagi besok.”

PERGERAKAN MENUJU PENYELESAIAN

Ketika udah sama-sama stuck sama persoalan, coba lakukan diagnosa, deskripsikan masalahnya, lalu usulkan solusi.

Latihlah kemampuan untuk mendiagnosis sampai dimana percakapan itu terjadi dan bagaimana untuk maju ke depan — bukan untuk memanipulasi hal-hal demi kebaikan, tetapi demi komunikasi yang jelas. Misalnya istri kritik soal si suami selalu main game sementara si suami menilai main game itu cara buat ngilangin stres. Si suami bisa ngomong gini:

“Oke, kita menemui jalan buntu. Kita berdua harus menyetujui ini, meski kenyataannnya sekarang kita tidak setuju. Solusi kamu kan bahwa aku harus berhenti main game. Sebagai suatu proses, itu tidak terasa adil bagi aku. Di sisi lain, aku tidak tahu cara memecahkan kebuntuan ini, jadi kita akan mencari tahu. Apa cara yang adil dan efisien untuk memutuskan kapan aku bisa main game?”

Susah susah gampang kan ya? Mari kita lebih bijak dalam menerima feedback! Umpan balik bukan hanya tentang kualitas saran atau keakuratan penilaian. Ini tentang kesediaan kita untuk menunjukkan bahwa kita tidak memiliki semuanya, dan untuk menyadari bahwa kita punya kekurangan dalam sebuah hubungan.

Bagaimana kalau umpan baliknya itu bener-bener aneh? Terus aja diberikan tanpa solusi? Kalau udah seperti itu memang harus pasang batasan ke orang tersebut. Misalnya, kalau kamu punya pacar, pacar kita tiap hari selalu komentar soal badan kita yang gendut dan malas olahraga. Kalau menurut kita itu gak tepat, sampaikan padanya batasan soal memberikan umpan balik:

  1. Thanks and No — Aku senang mendengar kamu memberikan kritik seperti itu … dan aku kemungkinan tidak menerima kritik itu.
  2. Not Now, Not About That — Aku butuh waktu dan ruang, ini terlalu sensitif untuk dibicarakan sekarang.
  3. No Feedback — Lebih baik penilaian tersebut ditujukan ke dirimu saja.

If you can apply these tips to “life’s blizzard of comments and advice with curiosity and grace”, the gains can be great. So? Semangat!

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s