Hamil, Corona dan Lebaran

Hamil, corona, dan lebaran. Sebuah kombinasi yang kurang sempurna, bahkan cenderung tidak sempurna. Hamil adalah momen yang sangat membahagiakan untuk saya dan suami, begitu pula bagi keluarga besar. Pasalnya, saya adalah generasi pertama di Bani Zarqoni yang akan melahirkan seorang anak. Namun nyatanya, kami tidak bisa berkumpul di kampung halaman. Hal ini menimbulkan perasaan yang campur aduk. Sedih, khawatir, cemas, takut, namun terselip juga perasaan bahagia karena jadi punya waktu lebih berkualitas dengan keluarga dan suami tersayang, sebelum buah hati kami datang.

  1. Lebaran di Rumah

Kalau kalian mengikuti, aku dulu berprofesi sebagai reporter televisi selama sekitar 5 tahun. Hampir lima kali itu aku tidak pernah pulang kampung untuk liputan di lapangan, blusukan ke daerah-daerah untuk melaporkan kondisi mudik. Mulai dari jalur pantura, jalur selatan, gerbang tol Palimanan, Cileunyi, demi memberi informasi terkini pada warga yang ingin pulang ke kampung halaman. Maka ketika sudah resign dari Metro TV dan tidak lagi menjadi reporter, aku menunggu-nunggu kapan aku bisa mudik dengan tenang.

Sayangnya, aku harus memupuk keinginan mudik ini, karena corona. Pemerintah melarang warga, terutama warga Jakarta, untuk mudik ke Jawa. Kami sekeluarga pun akhirnya tidak pulang ke Purworejo.

2. Lebih Dekat dengan Ayah dan Ibu

Namun ternyata, corona memberi kesempatan padaku sekali lagi untuk berbakti pada orangtuaku. Setelah berpisah rumah pascamenikah, aku tidak bisa melayani mereka secara langsung. Saat berada satu rumah dan karantina bersama, aku turut berkontribusi mengurus rumah. Setiap pagi aku mengepel dan mencuci piring setelah makan bersama di meja makan. Kami bahkan bisa punya waktu untuk jalan-jalan pagi keliling komplek di rumah setiap pagi. Terutama karena dorongan Ayah yang sangat rajin jalan pagi, coba cek deh hashtag #keepwalkingku di Instagram. Ayah bangga sekali dengan tagar buatannya ini.

Benar-benar rutinitas yang menyenangkan yang rasanya mustahil kalau tidak ada corona!

3. Quality Time dengan Suami

Hal yang tak kalah penting, bisa punya waktu lebih dengan suami tercinta. Karena kontrol rutin bulanan harus ditunda, aku harus lebih ekstra menjaga kandungan. Selama kurang lebih 2 bulan ini suami aku sering ingetin aku untuk jaga pola makan. Soalnya aku jadi suka makan manis-manis selama hamil. Mas Bisma juga suka nemenin ngepel. Aku ngepel posisi jongkok (supaya posisi bayi optimal untuk lahiran normal) sementara dia ngepel pake tongkat. Meskipun akhirnya dia yang ngepel lebih banyak, tapi kan aku lebih capek ya guys? πŸ˜›

Terus karena kami sama-sama work from home dan meja kerja kami bersebelahan, aku jadi tahu kesibukan kerjanya dan ia pun seringkali membantu aku kalau aku harus jadi moderator acara webinar. Kebetulan sekarang aku bekerja di sebuah startup yang aktif membuat acara online webinar. Kalau dengar-dengar dari teman-temanku yang jadi orang tua baru, kalau baby sudah datang, waktu tidur akan sangat berkurang secara kronis! Puas-puasin deh mesra-mesraan sama suami, sebelum ada si baby. Hehehe.

4. Menyambut Bayi Bersama Kakak

Di akhir tahun 2019, keluarga kami mendapat berita bahagia, kakak juga hamil! Alhamdulillah. Jadi kami akan melahirkan di tahun yang sama (inshaaAllah). Menyadari pentingnya belajar parenting sebelum punya anak, kami pun ikut kelas online. Mulai dari prenatal gentle yoga dari YouTube, kelas menyusui online, main gym ball, baca buku parenting tulisan Mbak Najeela Shihab, dan lainnya.

Jadi meskipun 1441 H ini bukan bulan Ramadhan dan lebaran yang ideal, ternyata momen-momennya bisa menyenangkan juga. Aku pribadi merasa belum sukses tetapi sangat bersyukur masih diberikan keberuntungan untuk memiliki pekerjaan dan dikelilingi keluarga yang sangat mendukung pilihan hidupku. Kadang malah aku merasa Allah terlalu baik, hingga melimpahkan rezeki keluarga yang penuh kasih sayang seperti ini. Aku merasa ini melebihi hak yang aku patut dapatkan. Kalau sudah merasa begini, biasanya aku akan menyisihkan rezeki dengan orang kurang mampu di sekitarku. Semoga dengan begini, perlahan dunia akan menjadi lebih baik lagi.

Hal apa yang kalian syukuri selama karantina corona?

Salam sehat!

Credit: Photo by @fextorlabs | Wardrobe by @endangatmaji

2 comments

Leave a Reply to Radevade_ Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s