Tips “Powerful Life” ala Dian Sastrowardoyo

Melihat sosok Dian Sastrowardoyo saat ini, tentu kita akan langsung menyimpulkan bahwa ia telah mendapatkan semua yang ia inginkan. Namun ternyata, anggapan itu tidak sepenuhnya benar karena Dian belum bisa mewujudkan apa yang sejak kecil ia inginkan yakni kuliah di luar negeri. Hal ini saya ketahui saat berkesempatan berbincang langsung, moderator talkshow acara CoLearn Samsung bertema Powerful Life: How to Turn Passion into Business di CoHive 101 Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Keinginan kuliah ke luar negeri yang mendorongnya untuk menjadi model. Hal ini ternyata ditentang keluarga besarnya. Ia bahkan disidang dan dilarang untuk menjadi model. Tetapi ia berkeyakinan bahwa profesi ini bisa membawanya kuliah ke luar negeri.

“Kalo diinget-inget, dulu itu sebenarnya aku pengen jadi model karena pengen bisa punya banyak uang sendiri untuk biaya kuliah ke luar negeri. Tabungan mama mau sampe 20 tahun, ga mungkin cukup buat biaya kuliah, sementara saya bukan yang selalu ranking satu di sekolah jadi cari beasiswa juga bukan opsi,”

Dian Sastrowardoyo, 2019

Saat berumur sekitar 10 tahun, Dian melakukan riset bahwa sebagian besar model yang sukses bermula dari kompetisi Gadis Sampul. Ia pun memperdalam risetnya bahwa untuk memenangkan kompetisi tersebut harus berkarakter dan fotogenik. Karenanya ia mengambil les modelling, meski harus merogoh kocek yang dalam. Hal tersebut tidak sia-sia, Dian menyabet gelar juara satu Gadis Sampul 1996.

Sesuai prediksinya, pintu-pintu rezeki di bidang hiburan satu-persatu terbuka. Setelah modelling, Dian masuk ke industri film. Sayangnya, saat sudah mempunyai biaya kuliah, ia justru tidak bisa berangkat karena sudah berkeluarga dan mempunyai anak yang tidak mungkin ditinggalkan. Hal ini tidak membuatnya lupa akan passion-nya di bidang pendidikan, meskipun bentuknya tidak seperti yang diinginkan dulu, yakni kuliah di luar negeri.

Dian meyakini setiap orang bisa mewujudkan powerful life, ketika bisa menggabungkan passion dengan occupation. Artinya, suatu isu yang dipedulikan bisa dijadikan bisnis atau pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Hal ini ia refleksikan dalam karya-karyanya selain menjadi model dan pemain film, antara lain menjadi produser film Guru-Guru Gokil dan Yayasan Dian Sastrowardoyo.

Produser Film Guru-Guru Gokil

Tahun 2019 adalah untuk pertama kalinya Dian Sastrowardoyo memutuskan untuk menjadi produser film. Film berjudul Guru-Guru Gokil adalah film ber-genre komedi, menggambarkan perjuangan guru-guru yang gajinya disalahgunakan oleh kepala sekolah. Film ini akan dirilis bulan Maret 2020 dan diharapkan bisa menjadi masukan bagi Mas Menteri yang baru, Nadiem Makarim, yang ingin mewujudkan kemerdekaan belajar.

Menjadi produser bukanlah tugas yang mudah, Dian terus mencari inspirasi dari berbagai sumber. Salah satunya adalah dengan membaca buku. Terakhir Dian membaca buku Robert McKee tentang penulisan script. Secara khusus ia mengutip bagian:

“Do research. Feed your talent. Research not only wins the war on cliche, it’s the key to victory over fear and it’s cousin, depression“

Robert McKee, Story: Substance, Structure, Style, and the Principles of Screenwriting

“Kalau jadi pembuat film, bekerjanya kayak seorang penulis. Penulis kadang musuhnya writer’s block, kadang-kadang juga bisa bikin depresi. Proses kreatif dan menulis dilakukan sendirian. Nah musuh pembuat film itu ketika ada cliché atau ketebak plot-nya. Jadi harus banyak riset,” ujar Dian.

Mengembangkan Yayasan Dian Sastrowardoyo

Selain film yang membahas isu pendidikan, Dian juga membangun Yayasan Dian Sastrowardoyo yang saat ini menyekolahkan 19 anak. Anak-anak ini dipilih sendiri oleh Dian, ada yang anak petani, ada yang penyintas korban kekerasan seksual, dari berbagai daerah pelosok Indonesia.

Dian terus menyinggung hikmah di balik belum berkesempatan kuliah di luar negeri. “Ini belum waktunya aja, mungkin sekarang aku diberi tugas untuk membawa Dian-Dian lain di pelosok negeri, yang menghadapi kesulitan untuk sekolah, supaya bisa mengenyam pendidikan yang baik,” kata Dian.

Combining Passion with Occupation

Pesan terakhir Dian, sebaiknya seseorang bekerja sesuai passion. Tidak perlu membuat sebuah bisnis atau yayasan sendiri, tetapi bekerja di sebuah tempat yang juga membantu bangsa ini secara makro.

“You should not discredit yourself like that. You should find a bigger meaning. You’re actually more important than you think you are. Karena diri kita bisa melakukan hal-hal yang mampu yang kita pikir ga mungkin. You can do what you can. By everything that you have. Kita selalu bisa dapat cara dengan powerful life dengan passionate dalam bentuk occupation,” pungkas Dian.

Kalaupun tempat kerja saat ini tidak mampu mewujudkan visi yang dicita-citakan, jangan takut untuk berusaha mencari peluang ke perusahaan yang sesuai dengan passion agar bisa mewujudkan powerful life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s