Festival Literasi Digital 2019: Melek Literasi Digital, Cerdas Bermedia Sosial

Komunitas Read and Greet menggelar acara “Festival Literasi Digital” dengan tema “Melek Literasi Digital, Cerdas Bermedia Sosial”. Tujuannya untuk mencari solusi atas masalah akibat penggunaan media sosial yang tidak tepat guna yakni gangguan pada kesehatan mental dan penyebaran berita bohong. Dari sisi mental, media sosial menimbulkan kecemasan, depresi, bullying atau perundungan, dan FOMO (fear of missing out) yang tinggi, atau takut ketinggalan. Penelitian dari United Kingdom’s Royal Society for Public Health menunjukkan bahwa anak muda yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di situs jejaring sosial lebih mungkin mengalami tekanan psikologis.

Permasalahan lain adalah penyebaran berita bohong. Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFINDO) menyatakan pada 2018 sampai Januari 2019, jumlah hoaks mencapai 1106 buah dengan 546 hoaks atau 49,36 persen bertema politik.  Sebagai solusi, perlu ada edukasi literasi digital. UNESCO merumuskan bahwa literasi digital merupakan kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.

Panitia membuka acara yang digelar di kantor Gojek, Pasaraya Blok M

Acara yang diikuti oleh sekitar 100 peserta ini terdiri dari tiga sesi yakni sesi pidato kunci, sesi diskusi buku, dan dua lokakarya atau workshop masing-masing tentang cara memerangi hoaks dan cara menulis review buku. Untuk memberikan gambaran soal kondisi terkini atas literasi digital, acara dibuka dengan pidato kunci dari Gerakan Nasional Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika, Wakil Ketua Umum Indriyatno Banyumurti. Menurut Indriyatno, literasi digital bisa mencegah penyebaran berita bohong yang menimbulkan provokasi. Pemerintah telah membuat kebijakan untuk menangkal hoaks, baik yang tertuang di Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Meski internet telah menjadi kebutuhan sehari-hari, mencari ilmu langsung dari buku adalah sensasi yang tidak tergantikan. Komunitas Read & Greet lantas memilih mediskusikan buku “Filosofi Teras” karena ilmu yang ada di dalamnya diyakini bisa menguatkan mental pembaca dan peserta dalam menghadapi terpaan informasi di internet. Penulis buku yang telah mendapat penghargaan “Book of the Year” 2019 oleh Ikatan Penerbit Indonesia yakni Henry Manampiring menjadi pembicara utama. Di dalam buku ini ia mewawancarai figur publik Cania Citta Irlanie sebagai Head of Content Geolive.id dan Salsabeela “Llia” Halimatussadiah sebagai Co-Founder Storial.co dan Nulisbuku.com yang telah mengimplementasikan Stoisisme selama ini.

Diskusi Buku “Filosofi Teras”

Acara diskusi dibuat dalam format talkshow yang dipandu Co-Founder Read and Greet sekaligus inisiator acara Festival Literasi Digital, Nadia Atmaji. Diskusi ini ditujukan untuk memperkenalkan konsep ‘filosofi teras’ atau Stoisisme kepada  peserta, baik yang sudah membaca maupun belum. Sebagai filsafat Yunani yang telah ada sejak ratusan abad lalu, penulis menjelaskan premis-premis dasar ajaran Stoisisme yang diinisiasi oleh Zeno, Epictetus, Marcus Aurellius, Seneca, hingga Theodore Roosevelt, Thomas Jefferson, dan JK Rowling. Filosofi ini dianggap makin relevan ketika konten media sosial bisa memicu kekhawatiran, depresi, dan gangguan mental lainnya seperti bullying, trolling, hoaks, hiperrealitas sosial media, dan perdebatan online.

Henry membuka diskusinya dengan menunjukkan slideshow foto seorang berperawakan layaknya binaragawan, tidak tersenyum dan berpakaian seperti preman. Ia bertanya pada audiens, apa yang mereka rasakan jika melihat orang seperti itu di terminal Blok M tengah malam? Ada yang mengatakan takut, khawatir, kabur. Tetapi ada yang mengatakan biasa saja. Ada pula yang bilang ingin minta foto karena tahu bahwa orang tersebut adalah aktor kawakan.

Tiap peristiwa direspon berbeda-beda oleh tiap orang. Berdasarkan filosofi teras, respon orang lain ini tidak bisa kita kendalikan.

Henry Manampiring

Dalam diskusi dibahas beberapa prinsip dasar Stosisme, seperti “dikotomi kendali” dan “STAR principle” atau Stop-Think-Assess-Response. Dikotomi kendali adalah pemahaman dimana dalam hidup ada hal-hal yang bisa dikendalikan dan tidak. Hal yang duniawi seperti harta, kesuksesan karir, cuaca, adalah hal di luar kendali yang seharusnya tidak dipikirkan jika menemui kegagalan. Hal yang dalam kendali adalah respon kita, pikiran kita serta perbuatan kita sendiri.

Cania Citta Irlanie membagi pengalaman pribadinya ketika mendapat cercaan di media sosial dan motivasinya untuk menerapkan Stoisisme. Cania mengatakan ia tidak merespon seluruh bully ataupun isu di media sosial,

“Aku tentuin dulu Cost, Risk dan Return-nya. Jadi kalau merespon serangan orang, apa untungnya buat aku kalau aku balas Kalau high cost dan high return, aku lakuin,”

Cania Citta Irlanie

Sementara narasumber lainnya Salsabeela “Llia” Halimatussadiah berbagi tentang bagaimana menyikapi beragam respon yang diberikan teman atas pilihan hidup yang diambil.

“Aku dulu sempat memakai kerudung, lalu ketika aku lepas, ada banyak yang mempertanyakan. Aku akan dengar kalau itu orang yang penting buat aku. Tapi kalau dia teman tapi menyakiti, bahkan menyebut dengan kata kasar, aku langsung cut pertemanan,”

“Llia” Salsabeela

Llia bahkan tengah menyusun buku berjudul “Santuy” yang pada dasarnya menjelaskan perjalannya hidup sebagai seorang Stoa yang santai dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup. “Kalau lagi makan timun lalu gigit timun yang pahit, ya buang aja timunnya, ga perlu marah-marah,” kata Llia mengibaratkan cara hidup santuy.

Penulis Buku Filosofi Teras, Henry Manampiring

Nadia Atmaji sebagai moderator memimpin diskusi dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan tajam pada para pembicara, “Om Piring mengatakan bahwa marah adalah nalar yang sesat atas suatu peristiwa, apakah artinya kita tidak boleh marah?” Henry Manampiring yang akrab disapa Om Piring kemudian menjawab, “Berdasarkan ajaran filsuf ini memang marah itu bukan suatu hal yang disarankan. Marah itu menimbulkan persoalan lain lagi,” pungkas Henry.

Saat masuk sesi tanya jawab, ternyata antusiasme peserta begitu besar karena banyak yang mengacungkan jari ketika moderator mempersilahkan peserta mengajukan pertanyaan. Gabriel bertanya pada Henry soal relevansi filosofi Stoisisme, “Apakah tidak boleh marah itu masih relevan sampai saat ini?” Menurut Manampiring, filosofi ini masih sangat relevan untuk diterapkan. Dalam buku dijelaskan, menurut seorang filsuf Stoic bernama Seneca, orang yang marah sedang mengalami “gila sementara”. Keburukan dan kejahatan lain memengaruhi pertimbangan kita, tetapi kemarahan memengaruhi kewarasan kita. Keburukan dan kejahatan lain menyerang kita dengan lunak dan tumbuh tak terlihat, sementara kemarahan bisa begitu memuncak karena penyebab awal yang remeh.

Para peserta antusias mengajukan pertanyaan

Selanjutnya pertanyaan menarik dilemparkan oleh  Dwi Andika Putra. Ia mengaku ketika mendapat informasi soal diskusi buku ini, ia langsung mendaftar karena sudah lama ia ingin bertemu sesama pecinta buku. Ia bertanya, “Bagaimana cara untuk tidak terpengaruh dengan drama di kantor yang membuat tidak semangat dalam bekerja?” Cania menjawab, ketika berada di kantor, berusahalah untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan visi misi kita. Jika di kantor ingin mendapat program mentorship, carilah. “Kalau udah tidak menemukan yang kita cari, jangan takut untuk ya keluar,” kata Cania.

Sesi Lokakarya Partisipatif

Setelah diskusi buku yang menarik, kegiatan dilanjutkan dengan “Workshop Antihoaks”dari Dewi S. Sari  yang merupakan Direktur Operasional Masyarakat Anti-Fitnah Indnonesia – MAFINDO. MAFINDO merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pemberantasan hoaks. Sesi ini berbentuk lokakarya sehingga pembicara membawakannya dengan interaktif atau banyak melibatkan peserta. Diskusi ini ditujukan untuk mengingkatkan kesadaran terhadap hoaks dan membekali audiens dengan kemampuan mengidentifikasi serta menangkal hoaks. Penekanannya adalah bahwa perkembangan teknologi dan membludaknya informasi adalah keniscayaan, sehingga peserta memiliki ketahanan terhadap disinformasi dan tidak terprovokasi untuk turut menyebarkannya. Ketua Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFINDO) selaku narasumber menjelaskan lanskap hoaks di Indonesia terkini. Menurut Dewi, hoaks juga disebarkan oleh tokoh publik, misalnya pada saat debat publik pemilihan kepala daerah.

“Saat debat publik ya, banyak yang memaparkan informasi berdasarkan klaim pribadi, maka kita melakukan upaya cek fakta secara live. Sehingga masyarakat mendapat informasi sebenarnya soal prestasi di calon kepala daerah tersebut,”

Dewi S. Sari – Direktur Operasional Mafindo

Setelah memahami lanskap hoaks secara komprehensif, narasumber menguji pemahaman peserta dengan permainan melalui aplikasi Kahoot yang dimainkan secara bersama-sama.

Sesi terakhir adalah “Workshop Menulis Review Buku” yang dibawakan oleh Pujia Pernami atau akrab dipanggil Jia Effendie yang merupakan Senior Editor Storial.co. Storial.co adalah platform menulis buku per bab yang bisa langsung mendapatkan umpan balik dari pembacanya. Sesi ini bertujuan untuk memperkenalkan review buku sebagai salah satu aktivitas positif yang berkontribusi signifikan terhadap budaya literasi. Membagi review buku secara online, selain melatih pemahamann membaca dan kemampuan menulis, akan menjadi alternatif konten yang lebih bermanfaat daripada konten hoaks. Dalam diskusi ini, narasumber menjelaskan manfaat review buku dan mengapa lebih banyak orang harus melakukannya.

Setelah itu, pembicara menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengulas buku yang dibaca. Menurut Jia Effendie, tahapannya dimulai dengan mencatat poin penting atau kutipan menarik ketika menemukannya di tengah proses membaca. “Ya memang bakal agak mengganggu proses membacanya, tapi ini penting supaya tidak lupa,” ujar Jia. Lalu, penting untuk memahami premis atau inti cerita dalam buku. Dalam buku fiksi, biasanya premis adalah cerita tentang seorang tokoh utama yang ingin mencapai suatu hal tetapi mendapatkan halangan dari berbagai sisi,” namun jika bukunya nonfiksi seperti Filosofi Teras, bisa ditemukan ringkasannya bahwa ini buku tentang bagaimana tidak terpengaruh dengan hal-hal yang di luar kendali kita. Para peserta pun berlatih membuat ulasan buku Filosofi Teras.

Seluruh peserta yang aktif mengajukan pertanyaan dan atau menjawab pertanyaan serta berpartisipasi dalam mengunggah konten acara Festival Literasi Digital di media sosial, mendapatkan hadiah berupa kaos dan buku dari Kompas.Id. Acara ini juga dapat terselenggara karena gigihnya sukarelawan dan kerjasama dengan Komunitas Mata Kita, JktGo, Ultimagz, Storial.co, Mafindo, Metro TV dan Kompas Muda.

Komunitas Read & Greet

Read and Greet merupakan komunitas bagi mereka yang gemar membaca. Awalnya, komunitas ini terbatas untuk 10 orang tiap sesi diskusi. Namun sejak pada tahun kedua berdiri, komunitas ini membuka diri dengan membuat acara tahunan yang terbuka untuk umum. Pada tahun 2018 lalu Read and Greet mengusung tema “Peran Anak Muda Menangkal Radikalisme” dengan membahas buku best seller nasional “Hijrah Bang Tato” bersama penulisnya langsung Fahd Pahdepie dan pakar deradikalisasi dan terorisme Dete Aliyah. Kegiatan diskusi buku terbatas maupun yang terbuka untuk kalangan umum telah membuka jaringan pertemanan dan kerjasama. Tingginya minat warganet membuat komunitas Read & Greet lebih optimis menggelar diskusi buku kembali di tahun 2019, dengan menghadirkan penulis buku “Filosofi Teras” yakni Henry Manampiring.

Selain karena kesamaan hobi, komunitas ini juga disatukan oleh rasa prihatin akan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Berdasarkan data statistik UNESCO tahun 2017, dari 61 negara Indonesia berada di peringkat ke 60 dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi Botswana. Sebagai solusi, sejak terbentuk pada tahun 2015 lalu, komunitas yang beranggotakan 50 orang ini, menggelar diskusi buku pilihan tiap tahun sesuai isu nasional yang sedang berkembang.

Foto oleh: Nadya Natasha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s