5 Makna Rekonsiliasi MRT Ala Jokowi – Prabowo

Hari ini untuk pertama kalinya Jokowi dan Prabowo bertemu usai pertandingan sengit di Pilpres 2019. Kendati orang-orang kepercayaan mereka kerap bersilang pendapat soal rekonsiliasi, nyatanya mereka bertemu lebih cepat dari dugaan dan pertemuan berjalan dengan sangat cair. Tetapi saya lebih tertarik pada hal lain yang sangat brilian dalam pertemuan ini yakni soal pemilihan tempat di MRT—moda raya terpadu. Mengapa saya menilai pertemuan di MRT adalah keputusan yang brilian? Karena pertemuan menjadi jauh lebih cair dan pesan kerukunan antara keduanya menjadi lebih kuat. Apa saja makna yang bisa kita tangkap dari momentum ini:

  1. Pertemuan di MRT bisa lebih santai

Selama ini keduanya digambarkan sebagai dua kekuatan politik terkuat di tanah air yang bersitegang. Maka pertemuan di dalam transportasi umum tentunya akan mencairkan suasana. Keharusan untuk menunjukkan gestur ewuh pakewuh bisa diminimalisir sehingga tidak kaku layaknya pertemuan di hotel bintang 5 ataupun istana merdeka.

  • Akhirnya, Prabowo mengakui pembangunan Jokowi

Selama masa kampanye Prabowo terus mengkritik pembangunan yang dilakukan pemerintah Jokowi. Menurutnya, manfaat pembangunan tersebut tidak dirasakan oleh masyarakat luas. Terlebih, pemerintah terus menumpuk utang untuk pembangunan tersebut. Tapi usai naik MRT, Prabowo memuji MRT dan merasa seperti di luar negeri.

  • Menggambarkan keduanya adalah masyarakat biasa

Siapa sih yang biasanya menggunakan MRT? Tentu masyarakat yang pergi ke kantor dari wilayah Jakarta Selatan ke Jakarta Pusat ataupun yang sekedar ingin berwisata. Visual mereka berdua sedang mengobrol di gerbong kereta memperlihatkan seperti itulah bangsa kita, ramah pada satu sama lainnya.

  • Mempromosikan transportasi publik agar makin banyak digunakan masyarakat

Saat ini tingkat okupansi MRT berada di level yang menggembirakan, rata-rata 60.000 – 70.000 per hari alias sesuai target. Kendati demikian hal ini belum mengurangi kemacetan ibukota yang semakin hari semakin menurunkan kualitas hidup pengguna jalan alis bikin stress. Maka, teladan menggunakan transportasi publik MRT ini meski hanya gimik, bisa menjadi inspirasi masyarakat. “Presiden gue aja naik MRT, masak gue enggak?” Setidaknya mungkin itu yang dipikirkan masyarakat.

  • Meningkatkan investasi modal asing untuk pembangunan transportasi publik

Saat ini MRT hanya menempuh jarak dari Lebak Bulu ke Bundaran Hotel Indonesia yang artinya tidak cukup signifikan untuk mengurangi kemacetan Jakarta. Seharusnya jangkauan MRT lebih luas, namun melihat postur APBN, pemerintah masih terkendala dana. Saat ini baru Jepang yang berinvestasi sekitar Rp 16 triliun untuk MRT Fase I sementara untuk Fase II (Jakarta Kota) menelan investasi Rp 22,5 triliun. Keseriusan pemerintah dalam membangun infrastruktur transportasi publik tentu akan membuat penanam modal lebih percaya menaruh uangnya di Indonesia.

Tidak masalah jika MRT ini hanya dijadikan gimik, toh yang penting pesan kerukunannya tersampaikan dengan baik pada masyarakat. Sudah tidak ada lagi pecah belah 01 atau 02, tidak ada lagi cebong atau kampret, kini waktunya Garuda Pancasila terbang mengejar ketertinggalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s