Kisah Mantan Preman dan Cara Anak Muda Lawan Radikalisme

“Kita harus bersatu melawan terorisme. Saya mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, memerangi radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan nilai-nilai kebhinekaan,”

—Presiden Joko Widodo di RS Bhayangkara Polri Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Sebenarnya peran apa yang bisa dilakukan rakyat biasa untuk memberantas terorisme? Apa sebenarnya tanda-tanda seseorang atau sekelompok orang ternyata menganut ajaran Islam radikal yang berpotensi berkembang menjadi aksi teror? Lantas ketika menemukannya di lapangan, apa yang harus kita lakukan? Melapor pada polisi kah?

Di saat masih bertanya-tanya mencerna pernyataan Presiden, saya teringat beberapa hari sebelumnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga meminta hal yang sama pada masyarakat: dukungan untuk bersama Polri dalam melawan terorisme.

“Kita bersama-sama, kita tidak takut terorisme dan akan kita berantas terorisme itu”

—Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5/2018).

Ketika mendiskusikannya dengan seorang teman, ia mengatakan saat ini di sekolah dasar ada guru yang mengajarkan bagaimana mendeteksi nilai-nilai radikal. Saat saya SD dahulu, seingat saya hal-hal seperti ini tidak pernah diajarkan.

Di tengah pergulatan soal peran apa yang bisa anak muda lakukan untuk memerangi radikalisme dan terorisme, saya pun memilih untuk membaca. Seorang teman merekomendasikan buku ini sejak akhir 2017. Pasalnya, buku ini dinobatkan sebagai salah satu buku terbaik dalam “melawan radikalisme dan ekstremisme”. Saya semakin penasaran, terlebih penulisnya adalah kawan sendiri, Mas Fahd Pahdepie.

Perhatian saya sudah mulai tersedot ketika mengetahui judul bukunya: “HIJRAH BANG TATO”. Hijrah? Bang Tato?

Buku ini bercerita tentang preman pensiun yang mendapat hidayah untuk berhijrah. Namanya Lalan. Namun karena hampir seluruh tubuhnya ibarat kanvas yang terutup cat warna alias tato, maka ia kerap dipanggil “Bang Tato”. Dengan gaya bahasa yang santai dan inspiratif tanpa menggurui, Fahd menceritakan lika-liku perjuangan Bang Tato istiqomah dalam hijrahnya. Fahd membantu Tato dengan memberinya pekerjaan di dalam perusahaan yang ia bangun.

Bang Tato yang tadinya pecandu narkoba, kerap minum-minuman keras, preman kampung, tukang pukul bayaran, tiba-tiba mendapat hidayah. Hidayah ini berupa penglihatannya yang tiba-tiba digelapkan dan ketika terbangun ia langsung ingin shalat. Tapi ternyata, masuk masjid pun tidak mudah. Ia diusir akibat tato di tubuhnya. Tato berbeda dengan dosa-dosa lainnya. Sekali mendosa dengan tato, akan terus terbawa dan terlihat. Ia merasa tidak diperlakukan dengan adil.

Setelah bertanya ke berbagai ustad, akhirnya Tato mendapat satu ustad yang menyatakan Tato boleh solat di masjid. Episode ini menjadi penanda penting dalam proses hijrahnya. Namun di fase ini Lalan mengonversi dirinya di kutub ekstrim lain dengan mudah. dia segera mengidentifikasi dirinya sebagai “laskar” yang ingin membela agama dengan apa pun yang bisa dia lakukan.

Secara cepat, sejak saat itu dia mengidentifikasi kelompoknya sebagai “yang benar” dan melabeli kelompok lain sebagai “yang salah”. Persepsi dan logikanya membuat sebuah barikade di antara dua label “kami dan mereka”.

Saat mendalami agama, Tato belum sepenuhnya kehilangan sifat sumbu pendeknya. Hijrah-nya seperti hijrah kagetan. Saat ada orang yang memfitnah istrinya, ia langsung pergi ke rumah orang tersebut dan memporak-porandakan barang-barang di rumahnya. Kaca rumah dipecahkan, bahkan golok ditancapkan di layar kaca televisi.

Ketika hijrah, Tato menyadari suatu hal, bahwa adzan adalah suatu hal yang sangat hebat.

“Pantesan dulu saat zaman nabi orang denger azan itu bahkan rela mati ya, rela mati buat ngebela islam dan ngebunuhin orang-orang kafir? Adzan adalah seruan untuk berperang,” ujar Tato.

Fahd kemudian menjelaskan bahwa “Allahuakbar” bukan ajakan perang, melainkan rasa syukur atas kebesaran Allah SWT. Tidak hanya hal besar, namun juga hal sesederhana nafas yang bisa dihirup dan dihembuskan, darah yang mengalir dalam nadi, dan lainnya. Tato semakin paham akan islam yang damai.

Tak lama setelah mendapat pekerjaan sebagai barista di café baru Fahd, Tato tertampar oleh takdir Tuhan. Ibunya meninggal dunia. Ia limbung dan kembali ke jalan gelap hidupnya yang dulu. Minuman keras menjadi pelarian. Setelah bolos 2 minggu, Fahd mencari dan menemukan Tato yang tanpa ancang-ancang langsung mengusir Fahd.

“To semua yang saya kerjakan setahun ini, semua yang saya berikan kepada kamu, semua kesempatan yang saya bukakan untuk kamu, bukan semata-mata dari saya! Itu cara Allah mempermudah jalan hijrah kamu. Kamu perlu tahu itu! Hijrah memang bukan sesuatu yang gampang. Kamu perlu tahu itu! Rasulullah diburu kaum kafir dan terancam terbunuh alam perjalanan hijrahnya. Hijrah itu berat, To. Berat. Terutama menjaga konsistensinya”

Di Epilog buku, Fahd menjelaskan bahwa buku ini adalah caranya melawan terorisme. Melawannya dapat dilakukan dengan cerita bahwa islam itu ramah, bukan islam yang marah. Ia juga menjelaskan tahapan awal terjadinya aksi terorisme. Menurut seorang psikolog Fathali M. Moghaddam dalam teori “Tangga Menuju Terorisme” ada 6 anak tangga menuju terorisme. Pada anak tangga pertama, ada perasaan diperlakukan tidak adil oleh lingkungan dan otoritas. Kedua, adalah mereka yang merasa tidak dapat perlakuan adil dari otoritas. Pasalnya ketika meminta keadilan di tahap pertama, hasilnya nihil. Ketidakadilan lain muncul. Di tangga ini mereka mulai berpikir dan merasa harus melawan. Sebagian mereka akan pergi ke tangga ketiga, dimana mereka “menyerang”. “Serangan” ini tidak harus serangan fisik tapi berupa serangan verbal, hate speech dan lainnya.

Bang Tato dinilai sudah berada di tangga ketiga. Ketika Fahd bertemu dan mengenalnya, cara dan nada bicaranya terus membahas otoritas. Akun-akun media sosialnya pun dipenuhi dengan umpatan-umpatan, hate speech, dan lainnya kepada pemerintah, penguasa.

Di tangga keempat, terdapat legitimasi moral yang baru untuk apa yang dia lakukan. Bersama teman-temannya dia sudah membicarakan aksi-aksi sweeping, demonstrasi jalanan, kerusuhan, bahkan tema percakapan mengarah pada “panggilan jihad” “kewajiban jihad”. Di waktu yang tepat, Tato mengundurkan diri dari organisasi yang punya agenda aksi tertentu.

Di tangga berikutnya, tangga ke lima, orang-orang dengan perjalanan psikologi semacam ini akan dengan mudah mendapati dirinya memiliki persepsi yang dikotomis tentang “kami” melawan “mereka” (us vs. them). Berjuang dengan legitimasi moral sendiri misalnya, “jihad”, sedangkan “mereka” dianggap musuh.”

Fahd bertemu dengan Tato ketika dia sudah berada di tangga kelima. Fahd berpikir keras mencari cara yang harus dilakukan agar tidak sampai tangga ke enam. di tangga ini dia sudah benar-benar melakukan tindakan penyerangan, perusakan atau “jihad” dalam arti melenyapkan “mereka” yang dianggap musuh.

Akhirnya Fahd mengikuti konsep Noor Huda Ismail dengan memberi kesempatan kedua dalam bentuk proses penyembuhan psikologis kepada mereka yang sudah menjalani serangkaian luka batin.

Menurut Fahd, Bang Tato sudah memenuhi semua unsur sebagai seorang “radikal”. Sebagai seorang preman bayaran yang bisa melakukan aksi kekerasan hingga tawuran yang mengancam nyawa, dia hanya butuh satu langkah lagi untuk sampai di tangga terakhir dan melakukan aksi ekstrim.

Jika cara konkrit Fahd melawan terorisme adalah dengan membuat buku yang menceritakan kontra narasi atas radikalisme, saya dengan Read & Greet membuat kegiatan yang mendiskusikan bukunya.

Kami percaya, semakin banyak orang paham konsep islam yang ramah bukan islam yang marah, semakin damai Indonesia.

Ini dia detail acara diskusi bukunya:

Talkshow dan Diskusi Buku Anak Muda versus Radikalisme”

Pembicara? Fahd Pahdepie, Bang Tato, Dete Aliah (Pakar Terorisme)

Dimana & jam berapa? Kafe Reformasi Kementerian PAN-RB, 16.00 – 18.30 WIB

Biaya? Rp 50.000,- (takjil dan makan buka puasa)

Registrasi kemana? https://www.loket.com/event/read&greet-bedahbuku

Sampai jumpa, ya!

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s