3 Hal yang Harus Kamu Relakan Agar Mencapai Keberhasilan

Hi! Bagaimana perayaan tahun baru 2018 kalian? Cukup menyenangkan? Atau membosankan? Saya sendiri melewatinya dengan sederhana. Bersama kakak, saya memasak fetuccine carbonara di rumah. Tidak mewah sama sekali, hanya kami berdua, memasak makanan kesukaan. Saat SD hingga SMP, menu ini seringkali kami pilih ketika berada di restoran barat. Ternyata kakak saya bisa memasaknya sejak berkuliah di Melbourne beberapa tahun silam. Memang benar kata orang, merantau bisa meningkatkan skill memasak.

Di momen pergantian tahun ini, saya tidak langsung membuat resolusi. Justru, saya merenungi satu hal. Dalam mencapai keberhasilan, terkadang yang perlu kita lakukan bukan mengiyakan segala hal melainkan kita harus bisa merelakan. Setidaknya saya merangkumnya dalam tiga hal dari berbagai sumber.

Merelakan pola hidup tidak sehat

Jika kamu ingin mencapai sesuatu, semua bermula dari sini. Pertama, kamu harus peduli dengan kesehatan dengan cara:

  1. Tidur berkualitas;
  2. Makan sehat;
  3. Berolahraga.

Langkah yang kecil, namun akan sangat bermanfaat di kemudian hari. Kita melakukan ini bukan untuk tujuan tertentu, kalau orang barat biasanya berolahraga untuk mendapatkan “summer body” atau di kita berolahraga agar kebaya bisa muat digunakan. Olahraga sebagai pola hidup itu juga sebuah investasi.

Merelakan menghabiskan waktu sia-sia

Seringkali kita tidak menyadari bahwa waktu yang tersisa sepulang kerja atau sekolah adalah waktu yang berharga. Katakanlah kita tiba di rumah pukul 19.00, lalu apa yang kita lakukan? Minimal 1 jam kita lewati untuk scroll feed Instagram. Lalu kita menyesal dan memutuskan untuk menyudahi media sosial dengan mengunggah 1 foto. Kegiatan yang lebih berguna seperti membaca buku seharusnya bisa dilakukan, tapi kita lebih memilih untuk mengecek jumlah like yang didapat.

Ubahlah kebiasaan ini selagi masih ada waktu. Pindahkan energi kita untuk kegiatan yang lebih positif.

Merelakan keinginan untuk disukai semua orang

Tak peduli seberapa baik diri kita, yakinlah tetap ada yang akan membicarakan hal buruk tentang kita di belakang. Contoh kasus, saya mempunyai teman yang rupawan, murah hati, dan murah senyum, sebut saja namanya Shahmeer. Tidak ada cela yang bisa menggerogotinya. Tapi ada saja yang tidak suka dengannya dan mencemooh cara bicaranya yang terlalu kekanak-kanakkan.

Bagaimana mungkin orang sampai hati mengatakan hal tersebut? Saya mencoba mencari jawabannya di Quora. Dari sejumlah jawaban, ini salah satu jawaban terpopuler:

You have already achieved something more than the ones who talk about you. They feel inferiority complexity. Even they want to achieve what you have achieved, but they are unable to and to curb their frustration they talk behind your back.

Jika mereka tetap membicarakan kalian, tidak apa, diamkan saja. Curahkan saja rasa kecewa kalian pada orang terdekat. Ingat, jangan tergoda untuk membicarakan hal buruk mereka, karena ini membuat kalian sama saja dengan orang tersebut.

Jadi bagaimana, sudah siap menghadapi 2018 dengan lebih merelakan ketiga hal ini?

This writing inspired by a Medium article.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s