Tips Ngobrol sama Bule Stranger

Hi passionate people!

Pernahkah kalian merasa ingin berbincang dengan orang asing atau bule yang ditemui ketika traveling ke tempat wisata di luar ataupun dalam negeri? Jangan malu atau gengsi untuk memulai pembicaraan. You can start it with small talk! Ngobrol asik yang tidak terlalu substansial tapi menyenangkan. Siapa yang tahu, banyak hal baru yang bisa kamu pelajari darinya. Bagaimana tidak, kan kita hidup di alam yang berbeda, musim yang berbeda, lingkungan sosial yang berbeda. Sadar atau tidak, hal ini bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih terbuka dan menerima hal baru yang terkesan aneh dengan lebih lapang. Kita juga bisa jadi lebih mengetahui negara kita karena mau gak mau jadi duta promosi negara kita. Entah kenapa ya, bule tu sering nanya jumlah penduduk loh.

glacier
Tur bareng bule dari negara lain pas di Gletser Fox

Tapi sayangnya, pas mau ajak bicara, seringkali kita bingung, gimana mulainya ya? Lidah jadi kelu tiba-tiba. Hmm it’s totally normal. Ini dia sejumlah hal yang bisa kamu lakukan sebelum ngajak ngobrol bule yang kamu temui di perjalanan.

  1. Mulai dengan memuji pakaian atau accessories yang digunakannya.

“Heey I really like your sun glasses, it’s really unique! Can I have them?” Haha kalimat terakhir jangan ditiru sih, bisa-bisa bukannya dapet kacamata, malah dapet pelototan mata.

  1. Tawarkan diri untuk mengambil foto dirinya yang sedang solo traveling dan foto selfie mulu. Kan kasian amat yak doi.
  2. Simply senyum. Jangan senyum-senyum ya tapi. Nanti dikira Eww.

Kalau udah ada interaksi itu, cobalah dengan bertanya sejumlah pertanyaan ini:

  1. Where are you come from?
  2. The reason of traveling. Out of many places, why did you choose this place?
  3. Do you also have this kind of tourism site in your country?

Kalau bulenya excited buat jawab, dijamin ngobrolnya ngalir. Suatu hari saya pernah sebelahan sama bule Australia di pesawat dari Selandia Baru ke Jakarta via Sydney. Sepanjang perjalanan selama 4 jam, kami gak ngobrol sama sekali karena sama-sama kecapekan. Lebih tepatnya, saya pelor alias nempel molor dari sebelum take off. Kalau kalian lagi capek basa-basi, mending gausah memulai ngobrol. Tapi kalau diajak ngobrol, usahakan tetap membalas dengan ramah. Remember, you’ll be treated like how you treat people. We also somehow represent our country.

Setelah pesawat landing, kami harus menunggu pintu pesawat terbuka untuk disambungkan dengan garbarata. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk proses tersebut. Saat itu saya yang tingginya semampai alias “seratus enam puluh lima centimeter aja tak sampai” kesulitan untuk mengambil tas di kabin. Mbak bule ini pun tak tega melihat saya meloncat-loncat tanpa hasil.

Hey I’m gonna get that for you,” katanya. Mbak bule yang beneran semampai ini mengambil tanpa usaha.

Hu, gak adil! (Makanya Nad jangan bolos pas Tuhan bagi-bagi jatah tinggi badan).

Saya pun menyampaikan ucapan terimakasih, disertai dengan pujian, “Oh thank you, it’s so kind of you!

Saya kemudian memberanikan diri sok asik untuk bertanya, apakah Sydney tujuan akhirnya atau ia hanya transit saja untuk ke Jakarta, seperti saya. Ia berkata, Sydney adalah rumahnya. Kemarin dia pergi ke Selandia Baru untuk mengunjungi kakaknya yang baru saja pindah kesana. Dia bercerita kakaknya sangat gila karena pindah rumah tanpa rencana. Setelah menikah dengan suaminya, kakaknya langsung pindah tanpa tahu akan tinggal dimana dan kerja apa.

Dia pun kemudian bernostalgia. Katanya ia pun pernah melakukan hal serupa, selepas lulus SMA. Ia mengajar berenang di Syracuse, Amerika Serikat dan mengumpulkan uang hingga 4000 USD! Dia menghamburkannya dengan traveling keliling Amerika sampai uangnya habis. Kami pun berakhir cerita-cerita ngalor ngidul, tanpa sadar bahwa kami harus berpisah di persimpangan gate domestic dan gate transit.

Oh iya, kalau kalian dapat cerita yang aneh, jangan timpali dengan komentar yang negative. Kalian bisa timpali dengan “Seriously? That’s very interesting. Tell me more about it!”. Dijamin perbincangan bakal makin seru!

Dari ceritanya saya mengetahui bahwa budaya orang barat sangat berbeda dengan budaya kita. Mereka tidak terlalu mempedulikan apa yang dikatakan oleh orang lain tentang hidup mereka. Lagipula tidak banyak orang yang suka melabel kehidupan orang lain. Di sisi lain di Indonesia, sudah ada kontruksi sosialnya sendiri. Selepas SMA ya harus langsung kuliah dan kalo bisa lulus tepat waktu, terus dapat kerja yang gajinya gede.

Tidak ada skenario terbaik. Semua tergantung dimana kita melihatnya. Ingat, perspektif bisa mengubah segalanya. Yang terpenting, bagaimana kita menyikapinya. Kalau saya tidak memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, mungkin saya tidak akan tahu hal-hal tersebut.

Mari jadi generasi open minded!

Ditulis di Jakarta,

25 Agustus 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s